Kebiasaan tidur di rumah teman, sudah saya mulai sejak adanya belajar kelompok saat SD. Waktu itu kelompok belajar dibuat bergilir di rumah-rumah. Dari mulai rumah saya di Kepuh Lor, rumah Kuthuk di Kepuh Kulon, rumah Isul dan Odin di Glondong dan paling jauh rumah Dwi di Kemasan. Ada kelompok lain yang juga melakukan belajar bersama. Kelompoknya Lilik Setiawan di Kepuh Kulon. Tetapi saya tidak pernah ikut belajar bersama kelompoknya, sehingga saya tidak paham model belajar kelompoknya. Saya dan dia memang tidak begitu dekat dulu saat SD. Mungkin karena saya abangan yang lumayan mbejujal, sementara dia dari kalangan elit Muhammadiyah yang alim di Kepuh Kulon.
Saya ingat waktu belajar kelompok pertama kali dilakukan di rumah Isul di Glondong. Waktu itu ibunya masih ada. Ibunya Isul meninggal saat kami kelas VI. Isul punya kakak cewek (saya lupa namanya) yang menurut ukuran saya waktu itu lumayan cakep. Saya masih selalu ingat dia, sebab saat saya sunat dia datang dengan pacarnya ke rumah saya dan memberi kado. Saya sunat saat kelas VI ketika sedang dilakukan ujian praktek ebta, sehingga saya tidak bisa ikut karena belum sembuh. Saya harus menempuh sendirian ujian praktek ebta setelah sembuh dari sunat. Rumah Isul cukup besar. Di samping depan kanan rumah ada mushola. Di samping depan kiri ada kamar yang terpisah dari rumah utama. Kami belajar di ruang depan dengan menggunakan lampu teplok. Penerangan listrik belum menjangkau daerah kami. Meskipun judulnya belajar bersama, faktanya yang terjadi adalah bermain bersama. Belajar hanya formalitas saja. Membaca beberapa lembar tidak lebih dari setengah jam. Kemudian kami disibukkan oleh jajanan yang dihidangkan ibunya Isul. Macam-macam gorengan dan kacang godhog serta sirup cukup menyita waktu kami. Sambil menikmati jajanan, ngobrol yang tidak karuan juga menguras porsi waktu belajar. Setelah itu belajar bersama dilanjutkan nonton film serial TV, Waktu itu serial The Saint yang kami tonton. Selesai film yang juga selesai siaran TVRI, baru kami berangkat tidur. Tidur di lantai ruang dalam dekat TV dengan alas tikar. Karena baru pertama tidur di rumah itu, saya agak susah untuk bisa tidur. Sebentar-sebentar terbangun. Saya agak kaget ketika saya bangun ternyata ruangan gelap gulita. Rupanya lampu minyak yang mengandalkan minyak tanah itu kehabisan sumber energinya, sehingga mati dan gelaplah ruangan. Terus terang saya agak tersiksa dengan kondisi itu. Saya berharap segera pagi dan segera pulang. Saya sangat bersyukur begitu mendengar suara adzan subuh. Saya segera bangun dan juga membangunkan yang lain untuk wudhu dan ke mushola depan rumah. Meskipun dinginnya luar biasa saat itu, saya tetap wudhu dan segera ke mushola. Rupanya ibunya Isul melihat saya sering terbangun. Hal itu saya ketahui ketika ibu saya ketemu dengan ibunya Isul, yang mengatakan bahwa saya paling rajin bangunnya. Sebelum subuh sudah bangun katanya. Padahal yang sebenarnya saya memang tidak bisa tidur.
Setelah yang pertama itu, saya jadi biasa tidur di rumah Isul. Untuk belajar selanjutnya tidak hanya melulu di rumah, tetapi sudah diselingi dengan bermain di luar rumah. Malam-malam bermain di desa lain merupakan hal pertama saya lakukan waktu itu. Acara main waktu itu adalah dul-dulan atau petak umpet. Saya dan Isul dapat giliran ngumpet. Saya lupa siapa yang jaga waktu itu. Namun saya ingat persis waktu saya diajak masuk kuburan untuk sembunyi. Saya bertiga dengan Isul dan Odin masuk kuburan. Saya dan Isul bersama masuk di salah satu cungkup, bangunan semacam rumah di dalam kuburan. Odin malah lebih nekat lagi. Dia naik pohon mlinjo yang ada di tengah-tengah kuburan. Tidak tahu mengapa saya sedikitpun tidak ada rasa takutnya. Mungkin lebih karena gengsi saja. Padahal saat masuk itu saya sudah terasa sirr..bergidik di tengkuk. Namun melihat yang lain tenang saja, saya juga menenang-nenankan diri sendiri. Ternyata bersembunyi di situ betul-betul aman. Tidak ada yang mencari. Saya kira yang lain juga tidak akan sebodoh kami, mencari hingga ke kuburan. Lama-lama kami bosan sendiri. Yang jelas Odin juga pasti kecapekan bertengger di pohon mlinjo itu. Saya lihat dia tidak bertengger di cabang, namun hanya mendekap pohon itu dan bertahan. Pasti sangatlah capeknya. Waktu kami keluar dari kuburan dan kembali ke tempat semula kami bermain, sudah tidak ada anak yang lain alias sudah bubar.
Pengalaman tidak enak saat belajar bersama, saya alami di rumah Sri Widodo atau Kuthuk di Kepuh Kulon. Rumah Kuthuk berada di sebelah timur masjid. Saat berangkat ba’da magrib saya merasa baik-baik saja. Namun setelah isya’ saya merasa badan saya tidak enak. Tubuh terasa demam, perut mual dan kepala pusing rasanya mau muntah. Kemungkinan besar waktu itu saya masuk angin. Saya minum ultraflu 1 tablet pemberian Kuthuk. Merasa sudah minum obat, saya sudah merasa tenang, meskipun badan masih belum nyaman. Saat itu Kuthuk menawari ketimun dan semangka. Melihat ketimun dan semangka, saya mengira akan terasa segar jika memakannya. Maka saya ambil ketimun itu satu dan juga semangka satu iris. Saya makan semangka sampai habis dan kemudian ketimun. Namun baru habis separo dari sebuah ketimun ukuran kecil, saya merasa ada yang tidak beres dengan perut saya. Saya langsung mual, badan menggigil, kepala terasa berkunang-kunang dan juga pusing yang disertai berputar. Meskipun sudah sangat mualnya, namun saya tidak bisa muntah, sehingga sakit di perut betul-betul menyiksa. Saya betul-betul pucat waktu itu. Oleh Kuthuk, leher saya dipijat-pijat dan dipaksa untuk muntah. Saya bisa muntah, meski sedikit dan terasa sangat pahit di lidah. Namun dengan muntah itu, membuat saya sedikit lega. Perut tidak lagi kruel-kruel. Namun badan masih terasa dingin, dan pusing juga belum hilang. Kuthuk memberi saya teh panas. Saya minum teh segelas sedikit demi sedikit hingga habis. Kemudian dengan selimut dua sarung, saya berusaha tidur. Mungkin karena capek menahan mual, dan juga efek ultraflu sudah bekerja, saya bisa tidur malam itu. Sejak saat itu saya menjadi trauma dengan yang namanya ketimun dan semangka. Saya selalu tidak mau makan jika ditawari ketimun dan atau semangka.
Saat belajar bersama di rumahnya Dwi di Kemasan, baru kami betul-betul belajar. Karena hanya bertiga saja waktu itu, saya, Hartono dan Dwi. Maksudnya belajar benar, karena memang waktu itu kami bertiga membaca soal-soal kemudian kami jawab bersama-sama. Itu dilakukan dalam waktu cukup lama, dari ba’da Isya’ hingga jam sembilan malam. Setelah jam sembilan, kami kewalahan makan suguhan yang disajikan tuan rumah. Kewalahan karena biasanya kami berenam atau minimal berlima, sehingga sajian yang semestinya untuk berenam itu kami makan bertiga saja. Setelahsemua sajian habis, kami langsung tidur. Tidak ada acara bermain-main. Paginya ba’da subuh saya dan Hartono pulang berjalan kaki. Kemasan itu letaknya dari Kepuh Lor cukup jauh. Kami harus melewati Glondong, kemudian area persawahan baru sampai di Kemasan. Sekitar 3-4 kilo jaraknya. Saat pulang itulah saya dan Hartono baru ada kesempatan bermain-main. Dengan alat sarung, saya dan Hartono seblak-seblakan (memukul dengan kain sarung). Itu saya lakukan sejak keluar dari rumah Dwi hingga memasuki kampung Kepuh. Hartono pulang ke Kepuh Kidul, saya pulang ke rumah di Kepuh Lor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar