Sekolah Dasar Negeri Mutihan III yang berada di belakang balai desa Wirokerten di dusun Glondong, merupakan sekolah bagi anak-anak Kepuh Lor umumnya menempuh pendidikan dasarnya. Meskipun demikian ada beberapa anak yang memilih sekolah di sekolah kalurahan lain, di Jambidan yang berada di timur kampung Kepuh Lor. Saya masuk SDN Mutihan III, karena memang sekolah TK saya bersebelahan dengan sekolah itu. Jadi begitu lulus TK, otomatis dimasukkan ke SD sebelahnya. Beberapa anak seangkatan saya dari Kepuh Lor yang laki-laki adalah saya, Slamet dan Pomo. Yang perempuan hampir semua saya sudah lupa. Tetapi sepertinya Mindar adiknya Meguk anaknya mbah Arjo nDengguk itu seangkatan. Tetapi meskipun berasal dari satu dusun, kami malah jarang main bersama di sekolah. Saya di sekolah seringnya malah bermain dengan Isul.
Isul, panggilan dari Endro Sulastomo, putranya Pak Jito kepala SDN Mutihan III, sekolah kami. Saya dan dia hampir selalu bareng. Dalam kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah. Kelompok belajar, latihan silat, hingga dul-dulan di Glondong saya bareng dia. Meskipun dia anaknya kepala sekolah, namun untuk urusan juara, dia tidak pernah bisa melampaui saya. Dia selalu jadi domor dua setelah saya. Itu berlangsung hingga lulus sekolah itu. Tetapi untuk urusan membuat kisruh, dia selalu pegang posisi. Skor saya selalu di bawahnya.
Waktu itu kalau tidak salah kelas IV. Sekolah kami membuat proyek pembangunan sumur, kamar mandi dan WC. Letak sumur dan kamar mandi itu berada lorong di selatan bangunan gedung SD. Lorong itu yang memisahkan bangunan gedung SD dengan TK. Dengan adanya bangunan itu maka, bangunan gedung SD dan TK tersambung. Di depan lorong dibuatkan pintu. Sehingga ketika akan masuk ke kamar mandi atau WC harus melewati pintu itu. Sumur yang digali memang mengeluarkan air yang jernih. Galian sumur itu dipasangi bis beton satu lingkaran berdiameter kurang dari satu meter. Karena di ata sumur dipasang kaca bening, maka dasar sumur nampak sangat jelas airnya, meskipun agak dalam atau jauh sekitar 4-5 meter dari bibir sumur. Ember dikaitkan di tali yang terbuat dari karet ban, dan dilingkarkan pada kerekan di atas sumur. Kerekan itu dikaitkan pada kayu salah satu usuk bangunan. Kamar mandi dan WC dibuat berdampingan. Kamar mandi dibuat tersendiri, terpisah dari WC. Jadi di dalam kamar mandi tidak ada WC. Kalau mau be’ol dan mandi ya harus masuk di dua kamar yang berbeda. Tidak bisa 2 in 1 seperti umumnya sekarang. Bangunan itu dipayungi dengan seng dari asbes, keculai di atas sumur ada kacan beningnya. Bangunan itu saat masih baru merupakan tempat favorit saya dan Isul untuk bermain. Bahkan saya pernah tidak masuk kelas, gara-gara keasyikan bermain air di situ. Tetapi entah mengapa saya dan Isul tidak pernah ditegur saat itu. Mungkin karena faktor Isul adalah anak kepala sekolah dan juga karena saya juaranya kelas.
Yang dimaksud bermain air itu adalah mandi di sumur. Bukan sekedar menimba air dengan ember kemudian dipakai mandi. Kami turun ke sumur dengan cara naik ke bibir sumur. Setelah itu, badan kami turunkan ke sumur dengan dua tangan menahan beban badan. Kaki dibentangkan hingga menjangkau tebing sumur. Setelah kaki cukup kuat menahan beban badan, dua tangan diturunkan dan menjangkau tebing sumur. Dengan menggunakan tangan untuk menahan badan, dua kaki diturunkan dan menjangkau lagi tebing sumur. Langkah itu dilakukan hingga mendekati air. Begitu kaki sudah menyentuh air, maka dengan serentak kaki dan tangan melepaskan pijakan dari tebing sumur. Kemudian byuur..tubuh terhempas dalam air sumur yang dalam itu. Saya tidak tahu persisnya kedalaman air sumur itu. Saya pernah berusaha menjangkau hingga dasar sumur namun tidak pernah berhasil. Saya sudah sangat tidak tahan untuk ambil nafas, sebelum kaki menyentuh dasar sumur. Di dalam sumur itulah saya dan Isul biasanya mandi yang sebenarnya. Tidak ada yang mengganggu, karena memang selama ini tidak ada yang tahu kalau kami biasa nyemplung ke sumur itu untuk mandi.
Namun pasca peristiwa berdarah itu, saya dan Isul jadi kapok bermain nyemplung sumur. Kronologisnya begini kira-kira. Seperti biasa, saya dan Isul bermain di dalam sumur. Waktu itu saya sudah merasa kedinginan, dan mau duluan naik. Isul masih tetap bertahan di dalam sumur. Saya naik ke atas dengan teknik sama saat turun. Menggunakan tumpuan kaki dan tangan untuk menahan badan. Saat naik rasanya lebih mudah daripada saat turun. Setelah di atas, saya kemudian memakai baju. Celana sudah basah. Saat itu memang sudah di luar jam sekolah. Kami nyemplung sumur saat jam sekolah sudah selesai. Jadi saya bisa langsung pulang dengan celana basah itu. Saat mau beranjak menuju ke pintu, saya melihat ember berada di atas di dekat kerekan. Biasanya saya selalu mengambil tali timba dan ember, kemudian saya letakkan di lantai dekat bibir sumur. Tetapi saat itu saya tidak begitu memperhatikan perbedaan posisi ember seng itu. Saya berjalan menuju pintu keluar. Namun baru separuh jalan, saya mendengar suara reketek..reketek..kerekan timba berputar. Saya menoleh, dan melihat ember yang di dekat kerekan meluncur ke bawah. Tak berapa lama saya mendengar Isul berteriak “ Aduuh…”. Saya berlari mendekat ke sumur dan menengok ke bawah. Di dalam sumur saya melihat Isul memegang kepala, dan saya melihat darah mengucur. Ember berada di samping Isul. Saya teriak ke dia “ Piye?”. Dia jawab “Drijiku meh tugel!” Ternyata darah itu keluar dari dua jarinya, bukan dari kepalanya. Jadi saat ember seng itu meluncur ke bawah Isul sempat melihatnya dan reflek tangannya langsung mengambil posisi melindungi kepala. Sehingga yang jadi sasaran tembak adalah jari-jari yang berada di atas kepala. Saya teriak ke dia “Iso munggah ora?”. Dia jawab “Iso!”. Saya minta dia segera naik. Dengan menahan sakit, dan itu nampak dari raut wajahnya, Isul berusaha naik ke atas. Rasanya memang berat. Karena yang semestinya mengandalkan tangan dan kaki, ini hanya kaki yang dijadikan tumpuan. Darah masih terus mengucur dari jari-jarinya. Saya pinginnya membantu dia segera sampai ke atas. Namun tidak bisa, karena memang tidak tahu caranya. Setelah dengan bersusah payah dan menahan sakit itu, Isul sampai juga di bibir sumur. Sampai di situpun saya tidak bisa membantunya. Isul harus bisa melampaui bibir sumur untuk sampai di lantai. Itu harus dilakukan sendiri, tidak bisa dibantu, karena kalau salah malah menjadikan terjatuh. Setelah mampu sampai di atas dengan selamat, saya lihat jarinya tangan kanan yang dipegangi dengan tangan kirinya. Ada luka menganga di dua jarinya yang masih mengalirkan darah segar itu. Saya bantu dia menuju ruang guru. Waktu itu masih ada beberapa guru yang belum pulang termasuk kepala sekolah. Melihat anaknya basah tanpa baju dan berdarah, Pak Jito kaget. Beliau bertanya “Keno opo kuwi?”. Isul menjawab “Ketiban ember!”. Pak Jito mengambil kain, sepertinya sapu tangannya. Dengan kain itu dibersihkan luka di jari anaknya, kemudian diambilnya obat merah dan diteteskan ke luka itu. Setelah dirasa cukup dengan obat merah itu, baju Isul yang saya bawa saya serahkan dan kemudian dipakainya. Isul kemudian diboncengkan bapaknya pulang ke Glondong, dan saya juga pulang ke Kepuh Lor. Setelah kejadian berdarah itu, saya dan Isul seingat saya sudah tidak pernah mandi nyemplung ke sumur berdarah itu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar