Kamis, 30 Desember 2010

Nonton Konser IV (Sukses Raksasa Godbless)

Log Zelebour selaku promotor dan produsen rekaman menyelenggarakan tour untuk promosi album Godbless yang terbaru Raksasa. Setahun sebelumnya Godbless juga melakukan konser untuk album Semut Hitam yang legendaris itu. Konser yang disponsori oleh Gudang Garam itu digelar di stadion Kridosono. Selain Godbless sebagai pembuka disertakan Power Metal, Mel Shandy dan El Pamas. Formasi Godbless sudah ada perubahan dari Ian Antono diganti Eet Syahrani. Personel yang lain masih tetap.
Saya, Siloek dan Haryadi sepakat untuk nonton konser itu. Tiket yang membelikan Siloek. Saat di sekolah hari sabtu saya dan Hari sudah mendapatkan tiket itu dari Siloek. Sebenarnya ada bonus satu bungkus rokok Gudang Garam untuk tidap tiketnya. Namun oleh Siloek rokok itu dikasihkan ke penjual tiket. Siloek bilang mau berangkat sendiri dari Umbulharjo. Saya dan Hari berangkat goncengan dari Jagalan. Lepas maghrib saya dan Hari berangkat. Ternyata Bimo dan Tutik juga sudah dapat tiket dan mau nonton juga. Bimo adalah kakak Hari yang kuliah di Kedokteran Umum UGM dan sudah lulus sepa milsuk AD berpangkat letda. Sedangkan Tutik kakak perempuannya kuliah di Kehutanan UGM. Dua-duanya merupakan alumni SMA5 Kotagede kebanggaan kami bersama.
Sampai di stadion Kridosono, motor kami titipkan di tempat parkir. Meski berangkat bareng, namun saya dan Bimo terpisah. Saya tidak tahu mengapa terpisah. Yang jelas kami tidak bareng sampai di Kridosono. Begitu menitipkan motor, saya dan Hari menuju ke stadion. Ternyata di luar stadion sudah banyak orang yang antri untuk masuk stadion. Seluruh calon penonton itu berjajar satu-satu menuju pintu masuk. Sangking panjangnya mereka hampir mengitari setengah stadion. Saya dan Hari ikut antri di barisan belakang. Untungnya antrian orang yang mengular itu berjalan tertib. Tidak ada yang saling mendahului. Saat saya ikut antri itu, band pembuka sudah tampil. Power Metal dari luar terdengar dengan jelas sedang menyanyikan Future World-nya Helloween. Mereka terus menyanyi, kami masih terus antri. Karena antrian sangat panjang sampai jatah waktu untuk Power Metal habis. Kami yang di luar sudah mendengar Mel Shandy menyanyi. Kami belum setia berdiri antri. Beberapa lagu hit dia di album Bianglala sudah dinyanyikan. Ternyata antrian begitu panjangnya. Mel Shandy usai tampil, saya dan Hari baru mendekati pintu masuk. Saya dan Hari dapat masuk stadion berbarengan dengan tampilnya El Pamas.
Kami berusaha mendapatkan tempat duduk yang strategis dari padatnya orang di dalam stadion. Kerumunan penonton di depan panggung sudah sangat menjamur. Untuk ke depan sudah tidak mungkin. Mereka sudah jingkrak-jingkrak sejak Power Metal muncul. Saya dan Hari dapat tempat duduk lesehan di sisi timur stadion, menghadap panggung meski agak jauh. Untung panggung dibuat lumayan tinggi, sehingga aksi para personel grup musik yang tampil dapat terlihat jelas. Saya betul-betul terpesona oleh penampilan El Pamas. Meskipun mereka mengusung lagu manca, namun mereka tampil tidak sembarangan. Lagu yang dibawakan juga bukan lagu yang mudah. Mereka mengusung sebagian dari album The Wall-nya Pink Floyd. Saat Baruna yang nampak seperti bule itu berteriak “The Wall Pink Floyd!!” , semua penonton terdiam. Lampu di panggung padam. Hanya satu sorot lampu dari luar panggung yang mengenai sosok vokalis berambut gondrong itu. Baruna mengangkat dua tangannya. Penonton spontan menyalakan api dari korek yang dibawanya. Suasana tampak ngelangut saat ada suara bayi menangis mengawali lagu The Thin Ice. Baruna menyanyi lagu itu dengan apik. Saat interlude uuh baby…,semua penonton turut ikut koor. The Thin Ice selesai, masuk Another Brick in The Wall part 1. Saya merinding saat itu. Instrumen di akhir lagu itu benar-benar bikin hanyut, ngelangut. Sampai kemudian muncul sound gemuruh suara helikopter menandai masuk ke lagu The Happiest Days Of Our Lives. Lagu rancak itu membangkitkan dari rasa nglangut yang sudah terbangun dari awal. Hingga kemudian masuk lagu puncak yang menjadi sangat klasik Another Brick In The Wall part 2. Koor anak-anak yang ada di rekaman aslinya itu, di stadion Kridosono diganti oleh koor penonton. SajianThe Wall oleh El Pamas benar-benar membuat saya jatuh cinta dengan Pink Floyd. Terimakasih kepada Totok Tewel dan kawan-kawan yang membawa saya untuk menyenangi musik yang lebih rumit, bukan musik yang biasa-biasa saja.
Sebenarnya saya sudah cukup puas dengan penampilan El Pamas. Namun ternyata El Pamas bukan penyaji utama. Puncak konser malam itu adalah Godbless dengan formasi barunya. Tahun ’89 Ahmad Albar masih sangat gagah dengan kribonya. Iyek didukung oleh Jockey Suryoprayoga, Doni Fatah, Tedi Sujaya dan gitaris baru Eet Syahrani. Melihat track recordnya, kualitas tampilan mereka sudah tidak perlu diragukan lagi. Mereka membawakan hampir semua lagu di album Raksasa dan Semut Hitam. Semua lagu yang dibawakan selalu diikuti oleh penonton. Ahmad Albar begitu mampu mengusai penonton. Meskipun ada kerumunan massa begitu banyak namun tidak terjadi kerusuhan. Saya dan Hari tidak beranjak dari tempat duduk sejak semula kami duduk. Ada keinginan untuk maju ke depan untuk ikut jingkrak-jingkrak. Namun kembali saya masih punya teori, bahwa yang namanya kerumunan massa itu mudah tersulut. Sehingga lebih aman memang menjauh. Tujuannya itu untuk menikmati penampilan, bukan jingkrak-jingkrak sendiri, sehingga malah tidak melihat yang sedang beraksi di panggung.
Setelah beberapa lagu dinyanyikan, Iyek kemudian mempersilakan personel Godbless tampil solo. Yang pertama muncul adalah Doni Fatah dengan bas gitarnya. Kemudian disusul solo drum oleh Teddy Sujaya. Kemudian debutan Eet Syahrani selaku gitaris baru Godbless unjuk gigi. Saat dia unjuk kebolehan menyayat gitar, saya dengar celotehan orang-orang di sekitar saya yang mengomentari aksi Eet Syahrani. Katanya jauh dari Ian Antono. Saya sih diam saja. Tidak bisa membandingkan antara Eet dan Ian. Ilmu saya tidak sampai ke situ. Saya hanya mendengar Eet meraung-raungkan gitarnya. Kalau saya baca di majalah mirip dengan aksi Edward Van Hallen. Aksi solo terakhir Jockey dengan keyboardnya. Kali ini dia betul-betul menampilkan diri sebagai musisi yang luar biasa. Beberapa instrumental lagu klasik dia bawakan. Yang sangat special saat dia mengarransemen lagu Padamu Negrinya Kusbini, benar-benar membangkitkan semangat patriotisme yang mendalam. Selesai arransemen yang apik itu, Iyek muncul lagi dengan lagu Semut Hitam. Beberapa lagu selanjutnya masih dinyanyikan oleh Iyek dengan kekuatan yang penuh. Hingga memasuki lagu akhir, Iyek menyanyikan lagu Raksasa yang menjadi brand konser tersebut, sekaligus judul album terbarunya. Ketika lagu hampir mendekati usai, tiba-tiba di panggung bagian depan terjadi hujan kembang api. Aksi penutup itu benar-benar sangat memukau dan mengesankan. Saya sangat puas dengan aksi yang ditampilkan oleh Godbless. Tidak rugi saya harus antri satu jam lebih untuk melihat langsung penampilan Godbless dan El Pamas yang mengusung The Wall itu. Jam 10 malam konser usai, tanpa ada kerusuhan sedikitpun. Saya sukses nonton konser tanpa satu gangguan yang berarti kecuali panjangnya antri untuk masuk stadion.

Nonton Konser III (Rock Setengah Hari)

Budi Suryanto adalah salah satu punggawa Cabioma (Cah Biologi SMA5) yang keranjinga musik rock. Meskipun rumahnya di Siluk, lereng perbukitan Panggang, yang masih sekitar 10 Km sebelah selatan Imogiri tempat makam raja-raja Jogja dan Solo, namun untuk musik rock dia tak pernah ketinggalan. Di rumahnya banyak ditempeli poster musisi rock tenar saat itu. Poster ukuran standar Gun&Roses, Def Leppard, Skid Row, Van Hallen dan sebagainya di dindingnya. Karena rumahnya di Siluk dan dia adalah satu-satunya anak Siluk, maka kami memanggilnya dengan Siloek. Ekspresi kecintaan pada musik rock itu secara formal juga ditunjukkan di sekolah. Saat harus tampil ke depan untuk menyanyi, dia pasti menyanyikan lagu rock. Yang saya ingat dia pasti menyanyikan lagunya Nicky Astria, lady rocker nomer satu Indonesia.
Pada hari Sabtu dia mengajak saya nonton konser musik rock di Mandala Krida. Dua tiket sudah dia pegang dan ditunjukkan kepada saya. Di tiket dicantumkan konser dimulai jam 2 siang. Dia bilang akan menghampiri ke rumah Kepuh. Saya membayangkan, kalau harus pulang dulu ke Siluk, apa tidak kecapaian dia. Ternyata dia tidak pulang ke rumahnya. Siloek pulang ke rumah salah satu saudaranya di Umbulharjo. Hari sabtu seperti biasa jam 12.45 sekolah bubar. Saya tidak naik motor, namun ngontel sepeda pulang ke rumah. Waktu masih kelas II, saya belum naik motor, masih mengandalkan sepeda balap lungsuran dari mbak Jazim. Baru kelas III saya naik motor Honda Supercup 80, gantian dengan bapak. Kalau saya yang bawa, bapak saya anter ke kantor dulu, dan sorenya saya jemput. Kadang bapak tidak saya anter sampai kantor, namun hanya dari depan Tom Silver dekat sekolah, kemudian bapak naik bus kota.
Jam setengah dua saya sampai rumah. Setelah bersih-bersih dan makan, jam dua tet, Siloek sudah sampai di rumah saya. Waktu itu udara masih terasa panas. Hanya dengan kaos dan celana jeans, saya gonceng Siloek di atas motor Suzuki RC100 andalannya. Mandala Krida tidak begitu jauh dari rumah. Sekitar 15 menit sudah sampai area parkir stadion bola andalan Jogjakarta itu.
Meskipun di tiket konser dimulai jam 2 siang, ternyata sudah mendekati jam setengah tiga pintu masuk belum dibuka. Saya dan Siloek menunggu di pelataran stadion. Waktu itu udara terasa panas. Sambil menunggu saya dan Siloek jajan es dan beberapa cemilan dari warung yang ada di sekitar stadion. Baru sekitar jam 4 sore pintu dibuka. Saya dan Siloek masuk stadion dan mencari tempat duduk di tribun atas. Panggung nampak jelas dari tempat kami duduk, meskipun agak jauh. Panggung berjarak sekitar 50 meter dari saya dan Siloek duduk. Di panggung masih nampak aktifitas cek sound. Waktu itu nampak Arthur Kaunang sibuk melakukan cek sound bas gitarnya. Setelah dia turun, sekitar jam setengah lima sore, acara musik yang rencananya dimulai jam 2 siang itu baru dimulai.
Banyak kelompok musik yang tampil mengusung lagu-lagu rock manca di panggung itu. Setiap kelompok tampil sekitar 1 jam. Ada 6 hingga 8 lagu dimainkan oleh setiap penampil. Saya tidak ingat nama-nama grup musik sangar itu. Yang tersisa di memori saya adalah kelompok yang bernama Sharkleer, Java Box dan SKE. Nama-nama yang hanya saya dengar di panggung itu, setelahnya saya tidak pernah mendengarnya lagi. Lagu-lagu yang dinyanyikan umumnya milik Deep Purple, Led Zeppelin, Van Hallen, Yes dan yang lain. Satu dua lagu yang dinyanyikan masih saya ingat. Dream milik Van Hallen, highway starnya Deep Purple dan changes andalan Yes. Ada lagu yang dimainkan oleh dua grup berbeda di sesi yang berbeda. Seingat saya highway star lebih dari sekali dimainkan. Setiap ganti lagu vokalis selalu nenggak botol vodka. Hampir setiap grup yang tampil, tingkah vokalisnya sama. Teriak-teriak, jingkrak-jingkrak, lari-lari dan nenggak vodka.
Penonton yang berdiri di depan panggung juga nampak ikut jingkrak-jingkrak. Siloek yang duduk di tribun mengajak saya turun ikut bergabung dengan penonton depan panggung. Saya tidak mau. Ngeri juga melihat mereka jondhal-jondhil tidak karuan seperti itu. Dalam kondisi begitu saya yakin mereka tidak terkontrol. Melihat penyanyi nya menyanyi sambil mendem, saya yakin penonton juga melihatnya sambil mendem. Orang mendem berkerumunan bersama dalam suasana riuh, rawan rusuh. Saya lebih baik menghindari potensi itu. Siloek tidak jadi turun bergabubng dengan orang-orang mendem itu begitu saya jelaskan argumentasinya. Jadi saya dan Siloek cukup menggerakkan kaki dan tangan sambil tetap duduk di tribun. Saat itu sudah mendekati jam 11 malam. Hawa dingin sudah mulai terasa sejak jam sepuluh. Celakanya kami berdua sama sekali tidak membawa bekal cemilan. Kami sejak jam setengah lima, murni hanya menikmati sajian musik tanpa sajian yang lain. Penyakit kedinginan mulai menyerang saya. Saya yang hanya memakai kaos jelas terkena dampak langsung dari hawa dingin itu. Siloek yang memakai jaket jeans agak terbantu. Namun dia bilang masih merasakan dingin.
Sebagai penampil terakhir SAS kelompok rock veteran seangkatan Godbless muncul di panggung. Grup yang digawangi Sunata Tanjung pada gitar, Arthur Kaunang pada bas dan vokal, serta Syekh Abidin yang menggebuk drum itu tampil sekitar satu jam hingga pas jam 12 tengah malam. SAS membawakan lagu-lagunya sendiri, bukan lagu rock manca yang sudah digelontorkan oleh musisi sebelumnya dari sejak setengah hari tadi. Karena saya tidak begitu familiar dengan lagu-lagu SAS, maka saat Arthur Kaunang menyanyi saya tidak begitu ngeh. Saya hanya merasakan bedanya penampilan SAS dengan grup sebelumnya. SAS tidak banyak tingkah. Tidak lari ke sana ke mari. Mereka sudah nampak dewasa banget. Bermain lebih mengutamakan skill bermusik dari pada tingkahnya. Arthur Kaunang meskipun wajahnya sangar, namun suaranya empuk. Dia juga tidak nenggak vodka seperti musisi sebelumnya setiap selesai satu lagu. Saya hanya ingat satu lagu yang diucapkan Arthur Kaunang sebelum dinyanyikan, kalau tidak salah body rock. Tetapi lagu itu saya belum pernah mendengarnya. Penampilan mereka meskipun meriah namun tidak mampu mengusir rasa dingin yang menyergap tubuh saya. Jam 12 tepat konser ditutup. Lampu stadion dinyalakan. Seluruh stadion terasa terang benderang, meskipun tersaput kabut.
Saya dan Siloek turun dari tribun. Menunggu beberapa saat untuk menghindari kerumunan penonton yang mau keluar. Setelah keluar, saya dan Siloek menuju tempat parkir motor. Saya terus bersedakep untuk menahan hawa dingin. Gigi saya sudah bergerutuk sangking dinginnya. Siloek mengambil mantel dari bawah jok. Waktu itu sama sekali tidak hujan. Saya tidak paham maksudnya. Begitu dibuka, kemudian dia pakai mantel itu. Dia bilang “Untuk menghadang angin malam”. Saya baru paham. Saya pikir dengan memakai mantel bisa mengurangi dingin. Namun ternyata sama saja. Meski saya sudah di dalam mantel, hawa dingin itu masih menyertai. Di belakan Siloek, saya terus bekah-bekuh menahan dingin. Siloek terus mengarahkan motornya ke selatan. Saya membayangkan jika Siloek harus kembali pulang ke Siluk tengah malam seperti ini apa ya berani. Ternyata dia mengajak saya pulang ke rumah saudaranya di Umbulharjo. Saya dan Siloek tidur di rumah itu. Baru sekitar jam 7 pagi setelah mendapatkan sarapan kami berdua pulang. Siloek menurunkan saya di rumah Kepuh. Dia tidak mampir, langsung pulang ke Siluk sejauh sekitar 30km dari rumah saya.

Nonton Konser II (Dingin Setengah Gila)

Awaludin Suhono anak Ngipik dekat sekolah SMP, selepas Isya’ tiba-tiba tanpa memberi kabar apapun datang ke rumah saya di Kepuh. Tidak perlu basa-basi dia langsung ngajak pergi. Saat saya tanya “Mau ke mana? Dijawab dengan cepat “Kaliurang!”. Saya heran, malam-malam ngajak ke Kaliurang. Saat saya desak ada acara apa di Kaliurang, dia bilang lihat Gombloh. Berbekal uang ala kadarnya dan merangkapi kaus saya denganjaket tipis, saya pamitan ibu dan nggonceng Udin. Dia memakai jaket kulit hitam. Tanpa helm kami berangkat mengendarai Honda Astrea 800 hitam miliknya.
Jalanan menuju Kaliurang setelah lewat selokan Mataram, tidak begitu ramai. Udin memacu motornya dengan lumayan kencang. Saya yang di belakang kadang harus memejamkan mata merem untuk menghindari terjangan angin. Masuk daerah Mbesi hawa dingin sudah mulai masuk kulit. Jaket tipis saya tidak mampu menahannya. Udin karena jaketnya lumayan tebal mungkin belum terasa dingin meskipun dia di depan. Memasuki Pakem, hawa semakin dingin. Sampai di Kaliurang tingkat kedinginan sudah lumayan sampai menembus tulang. Kami menuju ke lokasi konser di area perkemahan. Setelah menitipkan motor di parkiran dadakan, saya dan Udin berjalan mendekat ke panggung. Ternyata sudah banyak orang berkerumun di situ. Udin mengajak untuk mencari tempat lain. Kami naik ke bukit. Lumayan tinggi kami mendaki. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman kami duduk di samping pohon. Dari kami duduk, pojok panggung terlihat jelas, meski terlihat agak jauh.
Jam 8.00 malam acara dimulai. Penyanyi pertama muncul adalah Ebiet G Ade. Dia menyanyi sambil duduk di kursi dengan gitar akustik. Beberapa lagu dia nyanyikan. Saya tidak ingat persis lagunya apa saja. Yang jelas lagu “untuk sebuah nama” dinyanyikan bersama-sama dengan penonton. Ebiet mampu mengajak penonton larut dengan lagu-lagunya. Terus terang saya kurang bisa menikmati konser itu. Saya terganggu oleh hawa dingin yang menusuk. Hawa dingin itu tidak dapat diusir dengan yang hangat-hangat. Posisi saya dan Udin waktu itu lumayan tinggi di lereng bukit. Sehingga tidak mungkin ada asongan yang lewat menawarkan teh panas atau kopi. Jadi saya lebih berkonsentrasi dengan bergerak-gerak sendiri mengusir hawa dingin.
Tak terasa tampilan Ebiet sudah usai. Tampil kemudian Gombloh. Dengan pakaian khas, kaos lengan panjang dibalut rompi, rambut ditutupi topi, dan berkaca mata. Saya tidak bisa memastikan kaca mata itu hitam atau coklat. Gombloh juga menenteng gitar akustik. Saat memulai dialog dengan penonton Gombloh minta maaf karena tidak membawa pengiring, maka dia akan tampil dengan iringan musik minus one. Lagu-lagu Gombloh saya juga tidak begitu banyak paham. Yang sering saya dengar adalah Kebyar-Kebyar. Kaset itulah yang dulu sering saya lihat di rumahnya Agus Kepuh Kidul.
Pada saat saya nonton konser Gombloh itu, eranya bukan lagi era lagu Kebyar-Kebyar. Gombloh sudah bergeser, dari lagu-lagu yang idealis dan berbobot tinggi ke pop yang pro pasar. Gombloh saat itu sudah populer dengan Apel dan Setengah Gila. Album Apel dan Setengah Gila itulah yang kemudian menjadikan Gombloh berkucukupan materi. Saat masih mengandalkan patriotisme dan kecintaan kepada alam, Gombloh kurang mendapatkan penghargaan. Baru setelah Gombloh tiada, muncul Setiawan Djodi yang mengangkat SWAMI tanpa mempedulikan pasar. Dia mampu mendikte pasar untuk mendengarkan lagu-lagu SWAMI yang tidak umum di pasaran pada masa itu. Lagu-lagu bertemakan kritik sosial yang keras dan musik yang berani dapat diterima oleh pendengar musik Indonesia yang cukup lama terlenakan dengan lagu pop cengeng mendayu. Seandainya Setiawan Djodi mau turun tangan sejak awal tahun ’80 mungkin Gombloh tidak harus menjual Apel hingga menjadi Setengah Gila untuk sekedar memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya sebagai seniman.
Gombloh dengan iringan musik minus one, menyanyikan lagu-lagu Apel, Setengah Gila dan yang lain. Seingat saya dia tidak menyanyikan lagu-lagu kategori berbobot dan fenomenal semacam Kebyar-Kebyar itu. Mungkin lagu-lagu lawasnya saat itu belum dibuat karaokenya. Penonton begitu antusias menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan Gombloh. Dia juga sangat mahir membangun komunikasi dengan penonton. Meskipun berbadan kurus, namun ternyata dia mampu tampil hampir satu jam penuh. Dia berdiri selama menyanyi dan berdialog dengan penonton. Sedangkan saya seperti saat tampilnya Ebiet sebelumnya, masih disibukklan oleh urusan perdinginan. Hawa dingin semakin malam bukan semakin berkurang justru semangkin menggila. Apalagi saat itu kabut sudah mulai turun. Dari saya duduk, saat memandang sejajar di depan saya sudah nampak kabut. Dengan sekuat tenaga saya berusaha mengurangi dingin yang sudah menusuk-nusuk sumsum itu. Bergerak-gerak, menggosok tangan dan membuang napas lewat mulut tidak mampu mengurangi bekunya malam itu. Jam sepuluh Gombloh selesai tampil. Konser juga selesai. Saya senang sekali saat itu. Senang karena konser selesai. Bukan senang karena telah melihat konser Ebiet dan Gombloh. Senang karena segera bisa terlepas dari siksaan hawa dingin. Saya dan Udin menuruni bukit untuk pulang. Untuk sampai rumah saya masih harus menahan hawa dingin lagi sekitar satu jam perjalanan.
Saya dan Udin menuju parkiran untuk mengambil motor. Jok sudah basah oleh embun. Begitu pantat nempel di jok motor, air embun menembus hingga celana dalam. Nyess dingin rasanya. Motor digenjot, langsung tancap gas menuruni jalanan Kaliurang. Saya masih nggonceng di belakang. Di perjalanan saya nempel terus di punggung Udin. Dingin udara ditambah terpaan angin sudah betul-betul menyiksa. Sampai di kampus Bulaksumur, kami berhenti dan mampir warung hik di pinggir jalan. Teh panas dan gorengan cukup mampu mengurangi dingin yang sudah terlanjur masuk sumsum itu. Setelah badan sudah tidak lagi kedinginan, saya ganti yang di depan mengendarai motor hingga Kepuh. Sekitar jam 12 malam sampai rumah. Udin tidak mampir rumah, langsung pamitan pulang. Pengalaman nonton konser Gombloh itu adalah pertama kali dan sekaligus terakhir saya melihatnya secara live. Sebab tidak lama setelah konsernya di Kaliurang itu Gombloh dikabarkan meninggal. Menurut berita yang saya baca karena sakit liver. Melihat tubuhnya yang kurus kering sepertinya Gombloh menyimpan penyakit di dalamnya. Penyakit itulah yang menghantarkan ruhnya menemui Khaliqnya. Meski Gombloh telah mati, namun hingga kini lagunya masih abadi. Setiap Agustus lagu Kebyar-Kebyar hampir setiap hari terdengar. Sedangkan Apel dan Setengah Gila hingga sekarang saya tetap tidak suka mendengarnya.

Selasa, 28 Desember 2010

Nonton Konser I (Beatles)

Beatles merupakan salah satu grup musik yang mampu menyeret saya untuk menggilainya, menjadikan saya keranjingan. Sebenarnya saya tertarik dengan Beatles secara tidak sengaja. Waktu itu saya membaca majalah Vista Musik yang memuat artikel bersambung tentang Beatles. Artikel seri ke dua itu mampu membuat saya langsung tertarik dengan Beatles. Artikel yang ada gambar kartun mereka berempat di dekat buaya itu memuat beberapa album yang sudah dikeluarkan Beatles. Juga memuat pernyataan John Lennon yang mengatakan Beatles lebih terkenal dari Jesus. Saya juga menemukan potongan koran di kebun mbah Adi yang memuat berita tentang John Lennon menjadi hantu pasca kematiannya. Sedangkan yang mampu membuat saya terobsesi dengan mereka adalah saat RRI Jogja mengudarakan lagu Obladi Oblada. Itulah lagu Beatles pertama yang saya dengar.
Wujud kecintaan saya pada Beatles, teraktualisasi pada gaya rambut yang saya buat mirip-mirip poni. Bermodalkan rambut lurus maka gaya poni saya lumayan mirip. Apa jadinya jika rambut saya kribo atau kriwil-kriwil, sangat susah untuk memponikannya. Selain gaya rambut, saya juga mengoleksi banyak poster dari mereka. Poster itu saya tempel di dinding ruang tamu, dinding kamar tidur, bahkan dinding kamar mandi pernah saya tempeli poster Beatles.
Koleksi kaset Beatles saya juga lumayan lengkap. Semua album studio yang pernah dikeluarkan Beatles dari Meet The Beatles hingga Let It Be saya punya. Waktu itu koleksi yang umum berupa pita kaset. Piringan hitam dan CD masih menjadi barang mewah. Satu biji kaset baru C-60,harganya Rp.1.750 (seribu tujuh ratus lima puluh rupiah). Sedangkan untuk C-90 harganya Rp.2.250 (dua ribu dua ratus lima puluh rupiah). Maksud kode C-60 adalah masa putar kaset itu per sisi selama 30 menit sehingga total 60 menit. Sedangkan C-90 totalnya 90 menit. Hampir sebagian besar kaset saya keluaran dari Aquarius. Produsen rekaman itu biasanya mengeluarkan album seri bagi grup atau penyanyi solo. Di dalam album seri itu, lagu-lagu dalam satu album dari grup atau penyanyi solo dapat secara utuh dinikmati. Cover album biasanya juga sama persis dengan yang yang sebenarnya. Ada beberapa kaset koleksi saya keluaran dari label lain semacam Atlantik, A&M, Hins dan Yess, namun tidak banyak. Semua album Beatles saya keluaran Aquarius, dengan cover kaset sama persis dengan yang saya baca di majalah. Saya membeli kaset Beatles pertama kali di salah satu kios shooping center. Kaset bajakan seharga seribu perak itu saya simpan sampai saya tahu bahwa itu adalah kaset bajakan. Ketika saya mulai membeli kaset dari label Aquarius, kaset bajakan yang pernah saya beli di shooping center itu saya buang semuanya.
Setiap hari di rumah saya tidak pernah lepas dari suara lagu Beatles. Tape di rumah yang besar itu menjadi andalan untuk menyetel kaset-kaset Beatles. Meskipun tidak stereo, namun output yang dihasilkan cukup enak di telinga. Bas dan trebelnya lumayan jelas. Dan yang penting keras, sehingga dapat terdengar dari luar rumah saat saya pagi-pagi harus menyapu halaman yang luasnya 3x lapangan volley itu. Setiap minggu pagi jam 6 sampai 8 di radio Unisi yang waktu itu masih AM ada acara remember The Beatles. Penyiar rutin yang membawakan acara tersebut adalah Aditya atau nama udaranya mas Adit. Saya termasuk yang sering request lagu di acara tersebut. Maka bisa dipastikan setiap minggu pagi, saya tidak bisa diganggu oleh kegiatan yang lain karena konsentrasi dengan acara radio tersebut. Termasuk ketika di kampung ada kegiatan kerja bakti, saya ikut turun kerja bakti saat acara remember The Beatles selesai. Jadi saya datang ke arena kerja bakti, pas waktunya istirahat,saatnya turun minum dan makan snak.
Semua media yang dapat digunakan untuk menyalurkan kebeatlesan saya, selalu saya manfaatkan. Salah satunya adalah pelajaran seni lukis. Saat itu pak Manto guru seni lukis dan sekaligus wali kelas memberikan tugas untuk membuat gambar cover buku. Saya menggambar wajah John Lennon dari samping. Gambar itu saya tiru dari salah satu cover kaset. Gambar wajah dengan kaca mata khas itu saya beri judul Lennon&Me. Sebenarnya judul aslinya Elvis&Me karangannya mantan istri Elvis. Namun karena saya tidak suka Elvis, judul itu saya comot dan Elvis saya ganti dengan Lennon. Kemudian saat ada tugas membuat gambar cerita pendek empat babak. Saya membuat gambar dengan tokoh saya sendiri. Gambar satu adalah saya membeli kaset Beatles. Gambar dua saya membayangkan enaknya jadi Beatles yang terkenal. Gambar tiga saya tidur dan mimpi menjadi Beatles sedang konser ditepuki penonton. Gambar empat saya bangun dan muncul keinginan kuat mewujudkan mimpi dengan belajar dan berlatih keras.
Film tentang Beatles juga sebagian besar pernah saya lihat. Namun untuk bisa nonton film itu saya harus rela tinggal di asrama polisi Patuk. Di rumah Wiwit itu ada video. Berbekal uang dari rumah saya menyewa kaset video Beatles. Film pertama yang saya lihat adalah film hitam putih A Hard Days Night. Kemudian Help dan Let It Be yang konser di atas bangunan itu. Hanya tiga film itu, karena di rental yang ada juga hanya ada tiga judul. Saya belum punya referensi lain di luar tiga film itu. Ternyata belakangan baru saya paham ada film lain yang dibuat oleh mereka Magical Mysteri Tour. Buku-buku tulis saya saat SMP juga saya tempeli dengan potongan-potongan poster mereka. Karena itulah oleh sebagian teman SMP saya dipanggil John. Khususnya Zuni yang selalu memanggil saya John hingga SMA.
Menonton konser Beatles adalah sebuah obsesi yang tak pernah padam. Namun karena mereka sudah bubar sebelum saya lahir, maka hil yang mustahal untuk dapat melihatnya secara live. Maka kelompok Barata yang membawakan lagu-lagu Beatles di panggung menjadi penggantinya. Pengusung lagu Beatles paling laris di Indonesia itu dikomandani oleh Abadi Soesman yang memegang kibor dan kadang gitar. Jelly Tobing menabuh drum dan dua personel lainnya memegang gitar dan bas. Di Jogja juga ada kolompok musik yang khusus membawakan lagu Beatles, namanya agak panjang saya lupa. Ketika ada salah satu EO yang menyelenggarakan konser musik dengan tema Beatles saya semangat untuk menontonnya. Sebagai penyaji utama adalah Barata. Yang lain sebagai pembuka dari lokal Jogja. Sabtu siang sepulang sekolah saya mengendarai motor Yamaha L2 Super yang biasa dipakai harian oleh bapak ke kantor, menuju Kemetiran Kidul, tempat sekretariat panitia. Hari sabtu dan minggu adalah saat libur bagi bapak di kantor inspeksi pajak Jogja. Saya beli dua tiket. Harga tiket Rp.4.000,- per lembar. Seharga dua buah kaset saat itu. Jika menggunakan kurs saat ini sekitar Rp.50.000,- dengan asumsi harga kaset Rp.25.000 per bijinya. Rencana saya mau nonton bareng dengan Usman. Saya dan Usman sudah janjian. Dia akan menghampiri saya dengan Honda astreanya sore ba’da magrib. Manusia punya rencana, namun Tuhan yang menentukan. Sore jam 5 ada kejadian tragis yang membuyarkan rencana dan angan-angan saya untuk nonton konser grup musik mirip-mirip Beatles.
Ibuku ketika hendak memindah wajan penggoreng, tiba-tiba secara tak terduga wajan berisi minyak goreng yang masih super panas itu tumpah. Tumpahnya tidak di tempat yang tepat. Minyak goreng panas yang super kurang ajar itu menimpa kaki ibuku yang yang tercinta. Kontan ibu meraung kesakitan saking panasnya. Kami sekeluarga kaget dan panik atas tragedi yang terjadi menjelang maghrib itu. Keributan di rumah mengundang saudara dan tetangga mendatangi rumah saya. Dalam waktu sekejap rumah penuh dengan orang. Banyak saran yang diberikan untuk meredakan sakit. Ada yang bilang dengan odol. Saat itu memang kaki ibu sudah dipenuhi warna putih odol. Ada yang menyarankan diolesi dengan oli. Maka dengan ember diisi oli kaki ibu direndam di dalam ember isi oli itu. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk meredakan rasa sakit akibat terjangan minyak panas itu. Waktu adzan maghrib orang yang berkerumun sudah mulai bekurang, pulang. Hanya ada keluarga dan saudara yang masih bertahan di teras, bagian depan rumah. Ibu duduk di kursi panjang dengan kaki masih terendam di ember oli. Saya lihat ibu masih menahan rasa sakit. Itu nampak dari ekspresi wajah dan juga gerakan tangannya. Di saat kondisi seperti itulah Usman datang. Melihat kerumunan keluarga di rumah, Usman nampak kaget. Apalagi saat melihat ibu duduk di kursi panjang dengan wajah menahan sakit dan kaki direndam di ember. Saya jelaskan kalau ibu baru saja kesiram minyak goreng. Saya kemudian masuk rumah dan mengambil dua tiket konser Beatles mirip-mirip itu. Tiket saya serahkan ke Usman. Saya minta dia mengajak teman lain untuk menggantikan saya. Sayang kalau tidak dilihat. Setelah basa-basi sebentar dia pamit dan pulang. Dia harus kembali ke Wonokromo dulu untuk mengajak teman yang lain. Saya mengiringnya hingga ke depan rumah. Kepergian Usman juga menghapus angan-angan saya melihat konser Beatles. Meskipun saya keranjingan Beatles, saya tidak sampai hati melihat ibu begitu. Ibu yang melahirkan saya sedang menderita, mosok saya tinggal untuk nonton konser sambil jingkrak-jingkrak dan berteriak yeah..yeah..alangkah durhakanya saya. Ternyata dua tahun setelah itu saya berkesempatan nonton Barata konser di Mandala Krida. Sayangnya saat itu saya sudah tidak lagi jatuh cinta kepada Beatles. Saya masih suka, namun saat itu hati saya sudah kecanthol pada grup musik yang lain. Grup musik itu tak lain adalah Pink Floyd.

Minggu, 26 Desember 2010

Parangtritis II (Nyaris Tenggelam)

Kumpulan pemuda Kepuh Lor menyelenggarakan karya wisata ke pantai Parangtritis dengan mengendarai sepeda ontel bersama. Sekitar 60 orang ikut piknik yang harus bemodalkan okol kuat itu. Bagaimana tidak, untuk sampai ke pantai Parangtritis kami harus mengenjot sepeda ontel sejauh 40km, di jalan perbukitan. Jam depalan pagi, kami sudah berangkat konvoi bersepeda. Butuh waktu tidak kurang tiga jam untuk sampai tempat tujuan. Namun karena dilakukan secara berjama’ah, perjuangan berat itu terasa tidak begitu berat. Rasanya senang saja.
Saya tidak ngontel sendiri, namun diboncengkan oleh Karno. Karno adalah anak dari mbah Yoso orang yang biasa diandalkan oleh keluarga saya dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah. Umur Karno dengan saya terpaut jauh, lebih dari 10 tahun. Adiknya Karno, namanya Nurdi adalah teman saya bermain. Nurdi dengan saya ada selisih lebih dari 5 tahun. Sepeda yang dipakai adalah sepeda jengki phoenik milik saya. Jadi perjalanan selama hampir tiga jam itu saya tidak begitu capai. Rasanya cuma pantat jadi bebal. Rasa itu akibat kelamaan duduk di jok belakang yang tanpa ganjel sedikitpun. Karno yang ngontel jengki itu juga tidak kelihatan capai. Dia malah kadang ngepot sana sini menggoda peserta lain. Yang digoda tentunya yang cewek. Tetapi harus saya akui cewek-cewek di Kepuh Lor waktu itu menurut pandangan saya tidak ada yang bening.
Memasuki perbukitan Siluk Panggang, para peserta nampak kesulitan mengendalikan sepeda. Dapat dimaklumi, karena memang medan turun naik dengan kondisi jalan beraspal yang juga tidak mulus, penuh lobang. Namun medan tersebut bagi Karno bukanlah sesuatu yang berat. Dia dengan gayanya masih melaju dengan stabil dan masih juga menggoda peserta lain dengan kepotannya. Sekitar jam 11 kami sudah memasuki area pantai parangtritis. Semua peserta mampu finish secara aman, tidak ada yang mengalami hambatan.
Panitia mengatur posisi semua sepeda peserta. Kami istirahat untuk makan. Panitia menyediakan nasi bungkus. Saya lupa siapa yang mengkordinir. Selesai makan acara bebas. Semua menikmati pantai secara bergerombol. Namun ada juga yang berduaan. Karena saya masih kecil, baru kelas 5 SD, maka saya sendirian bermain. Saya sebenarnya sering diajak bersama bermain oleh cewek-cewek yang lebih tua dari saya. Tetapi ya tadi karena tidak ada yang cukup membuat saya senang, maka saya bermain sendiri. Namun jika butuh sesuatu, saya tinggal minta ke mbak-mbake itu pasti langsung dikasih. Ada yang selalu mengawasi saya, lek Jilah kalau tidak salah sebut nama. Jika ada apa-apa dia duluan yang mendekati dan memenuhi apa yang butuhkan. Dia selama ini sering membantu di rumah mbah Kaji Wir.
Melihat ombak dan juga pengunjung mandi, saya juga ingin mandi. Saya sebenarnya pernah mandi di laut Parangtritis waktu dulu bersama Wiwit dan Hari. Waktu itu kami piknik bersama sekeluarga dengan mobilnya pak Parjo. Memakai kaos model monyet warna merah dan celana pendek hitam, saya mendekati pantai. Di dalam laut saya melihat ada beberapa yang sudah mandi. Di bibir pantai banyak yang hanya berani menyentuh air saat ombak datang, namun tidak berani mandi. Saya masuk ke laut dengan cara berjalan perlahan ke arah yang berlawanan dengan datangnya ombak. Saat ada ombak datang saya merunduk. Begitu ombak sudah melewati tubuh saya, saya muncul lagi. Saya bertahan berenang di laut yang berjarak sekitar 10-15 dari bibir pantai. Di posisi itu masih banyak orang lain berenang. Sebenarnya bukan berenang, hanya bertahan untuk tidak tengelam. Jadi kaki dikibaskan untuk menahan tubuh. Tangan juga digerakkan. Kalau bergerak arahnya bukan menuju ke tengah, namun ke kiri dan kanan.
Saya tergerak untuk mencoba ke laut yang lebih jauh dan dalam, menuju ke selatan. Menggunakan teknik yang sama, merunduk saat ombak datang, saya secara perlahan mulai meninggalkan bibir pantai. Karena fokus menghadang ombak yang datang, saya tidak memperhatikan jarak saya dengan pantai. Begitu ada ombak saya menyelam beberapa saat, kemudian muncul kembali. Saat muncul posisi saya secara otomatis bergeser ke arah selatan, menjauh dari pantai. Hal itu saya lakukan dengan sangat tenang dan senang. Ada rasa bangga saat tubuh dilalui ombak. Namun begitu saya membalikkan badan ke arah utara, ke arah pantai, saya sangat terkejut. Ternyata saya sudah sangat jauh meninggalkan pantai. Di kiri kanan saya yang tadinya banyak orang berenang, sekarang sudah tidak ada lagi. Mereka berada jauh di utara yang dekat pantai. Sementara orang-orang di pantai dari posisi saya memandang sudah nampak seperti orang-orangan bertubuh mungil. Artinya saya sudah benar-benar meninggalkan pantai jauh sekali. Pada saat itu saya merasa sangat kecil. Di sekeliling saya hanya terhampar biru air. Melihat ke timur hanya nampak biru air laut, ke barat sama saja. Memandang ke selatan justru yang nampak gulungan ombak yang akan menerjang. Saya panik saat itu. Muncul kekhawatiran tenggelam. Ditambah saya menggunakan kaos warna merah. Katanya ada pantangan memakai pakaian dengan warna tertentu. Yang saya ingat warna merah adalah termasuk pantangan. Dianggapnya menyaingi Ratu Kidul, sehingga bisa diambil olehnya. Kepanikan saya semakin menjadi mengingat itu. Kaki saya juga sudah mulai terasa tidak enak, capai bergerak terus menahan berat tubuh biar tidak tenggelam.
Saat kepanikan mencapai puncak, tiba-tiba ombak besar datang. Reflek saya adalah menyelam menghindari ombak. Begitu ombak lewat saya muncul. Saya lupa, jika saya menyelam saat ombak datang berarti saya justru semakin menjauh dari pantai. Menyadari itu saya tambah panik. Saya melihat orang-orang di pantai itu sudah sangat jauh sekali rasanya. Pingin nangis rasanya. Membayangkan betapa tak enaknya jika harus tenggelam. Rasa takut sudah menyergap pada diri saya. Saat sedang kalut tiba-tiba ombak besar datang lagi. Tidak mengulangi kesalahan sebelumnya, saya melompat menyambut ombak itu dengan tubuh saya. Byaar..ombak menyapu tubuh saya. Saat diterjang ombak itu saya berusaha untuk tetap dalam posisi yang terkontrol. Artinya saya berusaha untuk tidak tenggelam. Ternyata ombak itu tidak sampai di pantai. Namun saya sudah senang karena sudah menjauh dari tengah laut. Posisi saya sudah di tempat awal saya berenang. Banyak yang lain berenang di sekitar itu. Sambil menata nafas dan juga hati, saya tetap berenang menjaga tubuh agar tidak tenggelam. Begitu muncul ombak lagi saya langsung sambut ombak itu dengan tubuh saya. Tak berapa lama saya sudah terdampar di bibir pantai. Saya berjalan keluar dari air laut menuju pantai. Kaki rasanya kesemutan. Mungkin wajah saya nampak pucat saat itu. Namun karena tertutup oleh warna kulit yang beku kedinginan jadi tidak begitu nampak. Yang pasti hati saya sudah kecut sekali. Lepas dari laut saya duduk di bawah gubuk yang banyak berdiri di sepanjang pantai. Saya oleh Lek Jilah diberi roti dan the hangat dalam plastik. Rasanya nikmat sekali saat itu. Jika saya terseret ombak laut selatan, pasti saat itu saya sudah tidak bisa lagi makan roti dan minum the lagi.
Peristiwa itu tidak saya ceritakan ke yang lain. Pakaian yang melekat di tubuh basah semua oleh air laut asin. Rasanya lengket di badan. Saya mandi ke pancuran air dari rumah warga yang tidak asin. Saya samarkan kejadian tragis tadi dengan bermain-main di pegunungan pasir, sambil mengeringkan pakaian yang basah. Tak berapa lama kaos dan celana saya sudah kering. Sengatan matahari di pantai sangat cepat menguapkan air. Jam 3 sore ba’da ashar, kami meninggalkan pantai. Dalam perjalanan saya baru menceritakan peristiwa di laut tadi kepada Karno. Mendengar saya hampir tenggelam di laut, Karno kaget. Dia tidak tahu kalau saya mandi di laut sebegitu jauhnya meninggalkan pantai. Saya pesan ke dia supaya tidak menceritakan hal itu kepada ibu atau bapak. Saya saat itu bilang kapok mandi di laut lagi. Dan memang setelah itu jika saya ke Parangtritis, saya tidak berani lagi mandi di laut. Apalagi sudah ada papan pengumuman yang dipasang di pantai dengan tulisan besar-besar warna merah : DILARANG MANDI DI LAUT. BERBAHAYA!!!.

Sabtu, 25 Desember 2010

Sengatan Misterius

Kebiasaan mencoba sesuatu yang baru bagi kami sepertinya memberikan tantangan yang selalu harus dilakukan. Saya mendengar cerita bahwa di Segoroyoso Pleret ada sebuah gua, yang di dalamnya terdapat sumber air. Terdorong oleh rasa penasaran, saya dan Agus ingin melihat dan membuktikan. Kali ini tidak mengandalkan capunk merah Agus. Kami hanya bersepeda sejenis BMX. Hanya sejenis saja, karena memang bukan sepeda BMX, hanya sepeda mini yang sudah dicopot sana-sini hingga minimalis sekali. Berangkat dari Kepuh pagi hari sekitar jam sembilan. Melewati Pleret terus ke selatan masuk Kedaton, ke timur hingga melewati jembatan yang melintasi sungai Opak. Sungai ini konon merupakan semacam jalan tol bagi para tentara penguasa laut selatan ketika defile menuju gunung Merapi. Bagi Jogjakarta, gunung Merapi, Laut Kidul dan sungai Opak adalah tiga unsur yang sangat penting.
Dari atas jembatan, nampak aktifitas penduduk sekitar yang sedang mencuci dan juga menjemur kulit. Kulit dari binatang berkaki empat seperti kuda, sapi, kerbau dan juga kambing yang sudah dipotong kecil-kecil. Kami menyebutnya dengan krecek. Krecek baisanya dimasak dicampur dengan potongan daging atau daging giling yang dibentuk bulat-bulat kecil. Masakan yang disebut dengan sambel krecek itu merupakan jenis masakan yang saya sukai. Tetapi biasanya hanya dimasak ketika sedang memiliki hajad baik pernikahan atau hajadan lain. Setelah melewati sungai, kami menyusuri jalan di sisi perbukitan. Hanya beberapa menit kami berhenti dan meletakkan sepeda di kebun pinggir jalan. Saya dan Agus menyeberang jalan dan berjalan naik mengikuti jalan setapak. Tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di lokasi yang dimaksud.
Gua yang dikabarkan orang itu memang benar adanya. Di depan kami berdua ada sebuah lobang besar menyobek dinding bukit. Lobang gua itu dari tempat kami berdiri, nampak seperti setengah lingkaran, semacam penggaris busur yang dipakai untuk menentukan besarnya sudut. Cukup besar. Saya mendongak ke atas tidak kurang dari sepuluh meter tingginya. Saya berdua mendekat. Kemudian mencoba melihat ke bawah. Di bawah dalam kedalaman yang tidak dapat saya terka, nampak samara-samar kilauan air. Dari sisi dinding tebing, ada semacam tangga yang memang diperuntukkan untuk turun. Agus mengajak saya turun. Namun entah mengapa saat itu nyali saya benar-benar raib. Ketika tadi saya melihat ke bawah itu, saya melihat asap putih yang tiba-tiba muncul dari bawah. Saya sayup-sayup juga mendengar suara-suara yang tidak jelas. Entah Agus melihat itu atau tidak. Yang jelas penampakan dan suara itu yang mencegah saya untuk turun. Tanpa saya, Agus turun sendirian. Saya melihat dari atas Agus menuruni tangga itu satu per satu. Sekitar sepuluh menit kemudian dia berteriak : “Wan, mudhun mrene adus”. Saya menjawab berteriak : “Emooh...”. Saya di atas sendirian menunggu Agus yang masih di bawah gua. Ada perasaan yang tidak enak saat saya memandang gua itu dari tempat saya duduk. Mungkin karena sendirian di bawah, Agus segera naik. Apakah dia juga takut saat di bawah, saya tidak mengetahuinya. Sampai di atas saya lihat Agus ngos-ngosan. Setelah istirahat sebentar kami berdua turun. Dari omongan Agus, di bawah gua memang ada sumber air semacam kolam yang kemudian dibuat sekat-sekat untuk mandi dan keperluan lain. Di bawah katanya gelap. Saat melihat ke atas yang nampak hanya lobang yang mengalirkan sinar matahari. Namun sinar itu tidak sampai bawah sehingga di dasar gua tetap gelap.
Sampai di sungai, saya mengajak Agus untuk mandi. Saat itu sungai Opak sedang tidak meluap sehingga air nampak jernih. Tidak tahu mengapa jika melihat sungai saya maunya terjun dan mandi di sungai itu. Padahal jika dilihat dari topografinya, sungai Opak memiliki kedalaman yang dalam. Ada palung sungai yang mengalirkan airnya dalam kondisi biasa. Palung itu memiliki kedalaman sekitar lima meter. Jadi dalam kondisi normal, jika ingin mandi kita harus turun dulu di bibir palung, kemudian baru meloncat ke air. Namun jika air meluap, maka palung itu akan terendam semua. Kiri kanan palung selebar lima meter juga terendam. Jadi sungai yang mengalirkan air dari gunung Merapi itu lebarnya lebih dari sepuluh meter. Saya pernah mandi di sungai Opak dalam kondisi sungai yang seperti itu. Maka melihat sungai yang mengalir biasa dan jernih itu, saya tergerak untuk mandi di dalamnya. Setelah meletakkan sepeda dan melepas kaos, dengan masih bercelana pendek saya dan Agus langsung masuk ke sungai. Berendam di air yang mengalir cukup deras. Di pinggir sungai saya melihat ada batang pisang yang tersangkut. Lebih dari tiga batang yang hanya muter-muter di pinggir sungai. Saya dan Agus kemudian mengambilnya dan menjadikannya sebagai pelampung. Dua tangan memegang ujung batang depan, badan di atas batang, kaki di belakang bergerak mendayung menjadikan kami leluasa mengarungi arus sungai. Ternyata batang pohon pisang itu selain membuat saya senang, juga menjadikan sumber malapetaka.
Sedang asyik mendayung pelampung, tiba-tiba tangan kiri saya terasa sangat sakit. Sakit oleh suatu sengatan yang tidak saya ketahui oleh binatang jenis apa. Yang jelas tulunjuk kiri saya sakitnya luar biasa. Batang pisang saya lepaskan, kemudian dengan sekuat tenaga saya berenang menepi. Begitu sampai di tepi saya berteriak ke Agus : “Gus aku dientup kalajengking!” Hanya asal berteriak menyebut kalajengking. Soalnya saya tidak tahu binatang apa yang kurang ajar itu. Saya pegangi tangan kiri saya yang terasa kaku. Agus setelah sampai di dekat saya mengambil sapu tangan dan mengikat lengan kiri saya dengan sapu tangan itu. Diikat begitu tangan saya terasa semakin kaku. Tangan kiri saya tidak bisa saya luruskan. Sakit itu semakin menjadi. Senut-senut tidak karuan. Rasanya seperti saat digigit kupu beracun di sore hari itu. Dengan tangan dibebat, saya mengambil sepeda dan mengendarainya dengan satu tangan kanan. Tangan kiri tidak mampu menjangkau stang karena tidak dapat diluruskan. Sambil menahan sakit saya terus menggenjot sepeda. Namun ternyata setelah sakitnya mencapai puncak, kemudian mulai reda. Ketika sampai di Jambidan, dusun sebelah timur Kepuh rasa sakit itu sudah sangat berkurang. Tangan juga sudah mulai tidak begitu kaku lagi. Sampai rumah meski masih sedikit ada rasa nyeri, namun sudah tidak saya rasakan. Hingga sekarang saya masih belum mengetahui jenis binatang apa yang menyengat saya. Namun demi sebuah gengsi dan biar terlihat gagah, saya mengklaimnya sebagai sengatan kalajengking. Padahal yang sebenarnya sengatan itu masih misterius hingga sekarang.

Parangtritis I (Nyaris Menangis)

Saya lupa persisnya, namun yang pasti hari Sabtu malam Minggu. Saya betiga dengan Agus dan Hartono berangkat ke pantai Parangtritis. Rencana awal mau menginap di pantai dan menunggu terbitnya matahari. Kami goncengan bertiga dengan satu motor Honda GL warna hitam. GL itu biasa dipakai pak Darmo untuk berangkat ke kantor kecamatan tempatnya mengabdi sebagai PNS selama ini. Setiap melakukan perjalanan seperti itu, memang tidak ada persiapan khusus. Yang penting jalan, bawa bekal uang secukupnya. Urusan di jalan dipikir sambil jalan. Bertiga dengan persiapan seperti seperi itu, kami berangkat ke Parangtritis. Meluncur dari Kepuh Kidul rumahnya Agus jam delapan malam. Perjalanan ditempuh dengan santai. Saat itu sedang tidak dalam momen khusus, sehingga lalu lintas jalan tidak begitu ramai, sepi malah. Sampai perempatan Jejeran, belok ke selatan ke arah makam Imogiri, tempat bersemayamnya jasad para raja kraton Jogja dan Solo. Pertigaan Imogiri kami belok kanan menuju Siluk. Sedangkan arah ke kiri adalah arah ke komplek makam Imogiri. Sepuluh menit berikutnya kami sudah melewati jembatan kali Opak, belok kanan sudah memasuki jalan di lereng-lereng perbukitan Siluk-Panggang.
Perjalanan di malam hari itu tidak dibantu sama sekali oleh terang bulan. Saya tidak tahu tanggal berapa, apakah masih muda atau sudah terlalu tua sehingga bulan tak kelihatan. Yang jelas kegelapan malam itu hanya disuluh oleh lampu motor saja. Empat puluh menit kami menyusuri jalan turun naik itu, hingga kami sampai di Kretek, tembusan jalan raya Parangtritis. Belok kiri kami menyusuri jalan raya itu, sepuluh menit kemudian kami sudah masuk pintu gerbang obyek wisata pantai laut selatan. Sampai di pantai yang berpasir lembut itu kami tidak menjumpai turis domestik maupun asing yang berada di situ. Rasanya memang aneh, malam-malam lepas jam sepuluh jalan-jalan di pantai kalau bukan kurang pekerjaan. Kami bertiga duduk-duduk beralaskan koran yang ada di sekitar situ. Mungkin bekas dipakai orang yang berwisata sore hari sebelumnya. Sambil ngobrol bermacam-macam tema, kami terus melewati malam. Sekitar jam dua belas tengah malam, Agus mengajak kami ke gua Langse. Gua itu berada di sebelah timur Parangtritis, sudah masuk kawasan Kabupaten Gunungkidul. Jika berjalan kaki butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai gua di bibir pantai itu. Gua yang terletak persis di bawah tebing itu memang cukup menantang untuk dikunjungi. Kami sudah beberapa kali ke sana. Di gua itu pula seniman asal Pati, Ragil Suwarno Pragola Pati raib jasadnya hingga sekarang belum diketahui keberadaannya.
Kami bertiga berangkat keluar dari pantai menuju ke arah timur. Namun baru sekitar satu kilo perjalanan, saya bilang ke Agus untuk berhenti dulu. Saat berhenti saya bilang, baiknya tidak usah ke gua Langse, sudah malam pulang saja. Tidak tahu mengapa saat itu ada perasaan malas untuk berjalan di kegelapan malam menuju gua yang konon tempat semedinya Panembahan Senopati itu. Pinginnya ya pulang saja. Tidak tahu juga mengapa mereka berdua menurut saja ketika saya provokasi begitu. Akhirnya kami atret, ambil arah ke barat untuk kembali pulang. Sampai pertigaan Kretek kami ambil ke kanan menyusuri jalan di pinggir perbukitan. Lima belas menit menyusuri jalan turun naik itu, saya merasakan ada hal yang tidak beres dengan motor GL yang kami kendarai. Suaranya mulai mbrebet-mbrebet seperti kehabisan bahan bakar. Dan benar saja tidak sampai lima menit setelah gejala awal, motor GL yang kami tumpangi bertiga berhenti kehabisan bensin.
Saat itu kami berada di jalan di antara perbukitan, jauh dari permukiman. Perkiraan waktu itu mendekati jam 1 malam, saatnya orang sudah terlelap dibuai mimpi. Begitu motor berhenti dan upaya menolong secara darurat dengan cara memiringkan tangki bensin tidak bisa, maka Agus selaku driver menuntun GL itu. Hartono di belakangnya mendorong, sedangkan saya berjalan di sampingnya. Kami bertiga berjalan melewati area pertegalan yang ditanami ketela. Menyusuri jalan turun naik, perjalanan sudah lima belas menit belum menemukan rumah penduduk. Setelah mengatur napas Agus berjalan lagi. Sepuluh menit kemudian kami menemukan gedung sekolah SD. Di sebelah SD itu ada rumah namun gelap. Hartono berjalan mendekati rumah itu kemudian mengetuknya. Beberapa kali ketukan, namun tidak ada respon dari empunya rumah. Hampir lima menit Hartono mencoba terus mengetuk, namun tetap tanpa hasil. Ada kemungkinan rumah itu memang tidak berpenghuni.
Usaha pertama gagal. Kami bertiga kembali mendorong motor mencoba mencari rumah yang lain. Ketika kami mulai berjalan, saya menoleh ke belakang. Secara samar saya menangkap seberkas cahaya api. Saya menduga itu bara api dari ujung rokok yang digerakkan. Posisi berkas cahaya itu agak jauh dari saya berdiri saat itu. Saya bilang ke Agus, ada orang di belakang. Agus menoleh namun dia tidak melihat apa yang saya lihat. Tanpa mempedulikan apa yang saya lihat, kami bertiga bergegas meninggalkan tempat itu. Rasa was-was sudah mulai muncul saat itu. Posisi kami bertiga ada di tengah bulak. Kami tidak tahu seberapa jauh dari perkampungan. Agus menuntun GL dengan agak lebih cepat. Saya dan Hartono mengikuti dari belakang. Kilatan api di belakang kami ternyata juga ikut bergerak. Hartono sambil berlari mendekat ke Agus berkata pelan,mengatakan kalau ada orang di belakang mengikuti. Agus menoleh ke belakang dan saat itu memang nampak oleh kami bertiga kilat yang bergerak-gerak. Saya menduga tidak hanya satu orang. Tanpa kami duga Agus melarikan motor itu. Kami berdua juga ikut lari. Terus terang saat itu saya terbayang di benak saya alangkah naasnya kalau kami bertiga dirampok. Motor dibawa, kami diikat atau bahkan mungkin dibuang di perbukitan atau tragisnya lagi dibunuh dan dibiarkan di pinggir jalan. Membayangkan tragedi yang akan menimpa itu, saya hampir saja menangis. Namun tidak sampai menangis. Saya termasuk anak yang kuat untuk tidak menangis menghadapi masalah. Namun saat itu saya hanya pada tahap hampir menangis, nyaris namun belum dan memang tidak sampai menangis.
Sambil terus berlari dan menoleh ke belakang, tiba-tiba Agus berteriak : “ Wan, bedhile disiapke. Nek nyerak tembak wae, mati rapopo “. Saya terus terang kaget. Kapan bawa bedhilnya. Namun reflek saya cukup bagus untuk mampu menangkap maksud Agus. Maka dengan berteriak pula saya menjawab : “Yo! Ngko nek nyerak tak tembake ndhase!” . Hartono saat itu juga lumayan bagus refleknya terus juga ikut teriak : “Nek mrene tak babate!”. Ternyata ide kreatif Agus mempu membangkitkan nyali kami. Sambil terus berlari dialog yang kami bangun adalah masalah senapan dan pedang. Maksudnya biar yang di belakang mendengar bahwa kami bertiga tidak bertangan kosong. Ada senapan dan pedang yang siap digunakan oleh ahlinya.
Terbukti setelah hampir lima belas menit berlari, orang-orang di belakang kami sudah tidak nampak lagi. Mungkin mereka memang mendengar apa yang kami teriakan sambil berlari tadi. Melihat itu, kami sudah mulai turun tingkat ketegangannya. Kami sudah tidak berlari lagi. Disamping sudah merasa aman, memang juga sudah ngos-ngosan. Niat hati mau berhenti istirahat, ternyata kami jumpai sebuah rumah di pinggir jalan. Meskipun gelap masih nampak temaram lampu teplok dari luar. Hartono kembali beraksi mengetuk pintu. Kami sudah tidak peduli dengan waktu yang mendekati dini hari. Ternyata hanya dengan tiga ketukan, sudah ada respon. Keluar dari balik pintu bapak-bapak setengah baya. Saat kami tanya bakul bensin terdekat mana, dia bilang sekitar sekilo dari rumahnya ada warung yang menjual bensin. Berdasarkan informasi itu kami kemudian berjalan lagi menuntun GL bertangki kosong itu. Tak sampai sepuluh menit kami melihat rumah yang ada rukonya. Di samping rumah itu ada rak yang dipakai untuk menempatkan botol bensin. Melihat itu kami sudah ayem. Ayem bakal mendapatkan bensin sehingga perjalanan yang melelahkan itu bisa segera berakhir. Saya dan Hartono maju bareng mengetuk pintu. Pada awalnya kami ketuk perlahan sambil kami berujar bensin. Namun ternyata ketukan kami tidak mendapatkan respon. Ketukan berikutnya lebih keras. Baru terdengar suara dari dalam, suara seorang laki-laki : “Siapa?” Kami berdua serentak : “Tumbas bensin”. Sambil membawa senter, seorang laki-laki bersarung keluar dari rumah itu. Begitu melihat orang itu, Hartono segera menghampiri dan bilang kehabisan bensin. Lelaki itu bilang sebentar dan kembali masuk ke rumah. Dia keluar lagi sudah membawa satu botol isi bensin dan saringannya. Agus segera membuka tutup tangki bensin. Tak butuh satu menit bensin dalam botol sudah masuk tangki. Dia masuk lagi saat kami bilang dua liter, dan keluar lagi sudah membawa satu botol bensin.
Mendapatkan bensin itu rasanya kami sudah terbebas dari himpitan masalah besar. Setelah membayar dengan uang pas dan ucapan terima kasih kami melanjutkan perjalanan pulang. Membutuhkan beberapa genjotan untuk menghidupkan GL pembawa sial itu. Begitu mesin hidup saya segera naik, kemudian diikuti Hartono di belakang saya. Perjalanan pulang sudah tidak kami rasakan lagi. Motor dipacu dengan cepat, tahu-tahu sudah masuk perempatan Jejeran. Belok kanan berhenti di dekat lapangan bola Wonokromo di warung hik pinggir jalan. Habis beberapa gorengan dan teh panas, GL digenjot lagi. Tak sampai lima belas menit kami sudah sampai di Kepuh Kidul. Kami bertiga tidur di mushola depan rumah, hingga saat subuh.